ADA satu hal yang agaknya perlu kita renungkan dari remaja 18 tahun
asal Papua, Septinus George Saa. “Uang sebenarnya bukan segala-galanya
untuk maju. Selalu ada jalan untuk menimba ilmu,” katanya. Sepintas di
telinga, apa yang dikatakan Oge-begitu ia biasa dipanggil-terdengar
seperti slogan. Namun, Oge sama sekali bukan berkampanye. Ia hanya ingin
jujur menunjukkan apa yang dicapainya tidak terkait dengan kemampuan
finansial keluarganya.
Sosok Oge mungkin bisa disebut sebagai gabungan dari remaja yang
punya kemauan serta kepercayaan diri tinggi, keingintahuannya besar, dan
ulet ncari celah untuk mengatasi hambatan. Sekolah bagi Oge sangat
menyenangkan. Ia akan merasa rugi besar jika sampai harus bolos sekolah,
entah karena tak punya ongkos jalan atau karena harus membantu ayah di
ladang. Untuk mengungkapkan kekesalannya karena tak bisa bersekolah, Oge
pernah menangis berjam-jam saat duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Kerapnya orangtua Oge terpaksa menunggak SPP juga tak membuat dirinya
kehilangan semangat sekolah.
Bukan hanya urusan ongkos jalan dan SPP saja yang dihadapi Oge
sepanjang duduk di bangku sekolah, bahkan buku cetak pegangan di kelas
yang harus dimiliki murid juga sering tak dimilikinya. Tetapi, dasar
otak encer, ia tenang saja menyerap seluruh pelajaran dengan otaknya.
Prestasinya di kelas sejak SD membuat gurunya menawari Oge untuk
langsung ikut ujian kelas enam, padahal saat itu ia baru kelas empat.
Keruan ibu Oge, Nelce Wafom, melarangnya menerima tawaran itu, bukan
saja karena sang kakak di kelas enam, tetapi Nelce juga menginginkan Oge
berkembang sesuai dengan umurnya.
HASIL penelitian Oge sebenarnya sederhana, tetapi bisa mempunyai
manfaat kelak jika dikembangkan lebih jauh. Lewat tulisannya di harian
ini Mei lalu, Dr Kebamoto, ahli fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, menilai eksperimen fisika Oge
ini boleh jadi akan menjadi langkah awal pengungkapan misteri struktur
sarang tawon yang berbentuk heksagon. Ini adalah struktur yang dikenal
dalam bidang material sains dan struktur bangunan sipil, mulai dari
lembaran kulit bola kaki sampai material berukuran mikrometer atau
nanometer.
Struktur sarang tawon dikenal bisa membuat berbagai material-seperti
grafit atau nanokomposit-menjadi memiliki sifat fisika yang aneh-aneh,
seperti daya hantar listrik tinggi, tahan terhadap suhu tinggi, dan
kekuatan mekaniknya 500 kali dari baja. Padahal, pada bahan yang sama,
jika strukturnya tak sarang tawon, sifat fisika seperti disebut di atas
tidak akan tampak.
Dalam eksperimennya, Oge meneliti dua hukum Kirchoff, suatu hukum
yang mengatur besar arus dan tegangan listrik pada titik percabangan
suatu rangkaian/jaringan resistor.
Menurut Kebamoto, jika jaringan itu berbentuk persegi atau segitiga,
penghitungan resistor totalnya bisa dikerjakan murid sekolah menengah
atas (SMA). Sementara kalau struktur resistornya berbentuk bintang,
pengerjaannya bisa digarap mahasiswa tingkat 1 atau 2.
Namun, yang dikerjakan Oge adalah struktur sarang tawon rumit, di
mana mencari hambatan atau beda tegangan antara dua titik simpul mana
saja pada sarang tawon, yang tak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Oge ternyata menyelesaikan masalah dengan deret Fourier yang biasanya
baru diajarkan pada mahasiswa semester 4.
Bisa dibayangkan, seorang murid kelas 3 SMU Negeri Buper, Jayapura,
bisa menurunkan persamaan rumit itu ke dalam formula sederhana. Dengan
rumusnya itu, ia bisa menghitung hambatan (resistensi) di antara dua
titik dalam sebuah rangkaian sarang tawon. Padahal, menurut Kebamoto,
karena rumit dan solusi analitisnya sulit ditentukan, Oge harus belajar
terlebih dulu soal analisis numerik dan program komputer yang bisa
menyelesaikan kasus itu. Semua ini biasanya baru dipelajari mahasiswa
tahun ke-3.
PERJALANAN Oge membuat rumus yang layak ia klaim sebagai “George Saa
Formula” sebenarnya berawal dari terpilihnya ia-bersama dengan empat
siswa lain-oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk ikut Olimpiade
Fisika. Saat itulah ia mulai berkenalan dengan pelatihan tiga bulan yang
dilakukan Tim Olimpiade Fisika di Universitas Pelita Harapan (UPH),
Karawaci, Tangerang. Hasilnya, ia dikirim ke India, mengikuti lomba
fisika, di mana Oge cuma memperoleh gelar honourable.
Berikutnya, ia menghasilkan makalah berjudul “Apakah Elektron
merupakan Partikel atau Gelombang?” yang merupakan hasil tinjauan ulang
atas berbagai makalah yang pernah ditulis sejumlah ilmuwan. Dari makalah
yang dinilai biasa saja, tetapi penjelasan dan cara menyimpulkannya
menarik, Yohanes Surya-guru besar UPH yang juga Ketua Tim Olimpiade
Fisika-mulai melihat adanya potensi pada diri Oge. Bersama dengan enam
peserta lain, ia kembali berlatih di UPH selama sebulan sebelum diminta
untuk membuat penelitian dari sejumlah topik yang sudah ditentukan. Dari
situlah, Oge mulai meneliti soal penghitungan hambatan pada struktur
sarang tawon.
Jika menilik ke belakang, apa yang dihasilkan Oge bukannya tanpa
hambatan. Untuk mengikuti lomba ilmiah tingkat pelajar di luar daerahnya
bukanlah hal mudah. Beruntung ia memiliki kakak yang bisa diajak
“bersekutu”. Adalah Franky Albert Saa, kakak Oge yang tertua, yang
secara diam-diam mempersiapkan kepergian adiknya ke Jakarta setelah Oge
menjuarai lomba Olimpiade Kimia tingkat daerah tahun 2001. Sang ibu
rupanya tidak rela berpisah dari si bungsu yang dilahirkan 22 September
1986 ini. Persis menjelang Oge akan melangkah menuju pesawat, baru kabar
itu disampaikan kepada Nelce. Keruan tangis Nelce pun pecah dan itu
berlangsung sampai dua pekan.
Bagi Oge, masa sulit bersekolah praktis terlewati begitu ia diterima
di SMUN 3 Buper Jayapura, sebuah sekolah unggulan milik Pemerintah
Provinsi Papua, yang dikhususkan untuk menampung siswa berprestasi. Para
lulusan sekolah menengah pertama yang berprestasi dari setiap
kabupaten/kota dikirim oleh pemerintah daerahnya untuk bisa bersekolah
di sini.
Di sekolah itu pula, Oge mulai mengenal internet, yang menjadi sumber
inspirasi penulisan risetnya. Dari internet juga, ia mendapat
bermacam-macam teori, temuan, dan hasil penelitian para ahli fisika
dunia yang mengilhami Oge dalam menurunkan rumusnya. Itulah yang membuat
dia berkomentar, “Uang bukan segala-galanya untuk maju. Selalu ada
jalan untuk menimba ilmu.”
Karena itu pula, ia berharap para remaja Papua juga dapat melakukan
hal serupa dan tidak perlu resah dengan urusan uang. “Orang Papua banyak
yang hebat dan memiliki otak brilian. Tetapi, mereka selalu melihat
uang sebagai hambatan. Padahal, yang penting kan kemauan dan semangat
kerja keras,” ujar remaja yang juga mendapat kesempatan belajar riset di
Polish Academy of Science di Polandia selama satu bulan.
Kesempatan itu tentu saja amat diimpi-impikan Oge yang bercita-cita
meraih Nobel bidang fisika kelak. “Saya memang masih harus bekerja
keras, disiplin, dan terus mencari yang terbaik untuk sampai ke sana,”
katanya.
KINI hari-hari Oge tidak hanya disibukkan dengan belajar, mengasah
kemampuannya, tetapi juga menghadiri berbagai acara yang sifatnya
seremonial. Suatu kali pernah ia harus hadir atas undangan Gubernur
Papua JP Solossa guna bertatap muka dengan para guru dan murid
se-Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom di Kantor Balai Pelatihan
Guru di Kota Raja, Jayapura. Dalam acara yang terkait dengan peringatan
Hari Pendidikan Nasional itu, Solossa memujinya dengan mengatakan, “Dia
tidak hanya membawa nama besar Papua, tetapi mengangkat nama bangsa
Indonesia di dunia internasional. Ini satu kebanggaan luar biasa. Papua
yang selalu dikonotasikan dengan kemiskinan, telanjang, dan bodoh
ternyata punya putra asli yang genius,” kata Solossa disambut tepuk
tangan.
Oge kini memang menjadi favorit guru dan murid di Papua. Seusai
pertemuan dengan Gubernur Solossa, misalnya, para siswa dan guru
mengerumuninya. Mereka mengucapkan selamat berjuang, sementara beberapa
guru dari sekolah lain mengajak Oge berfoto bersama. Sementara, di luar
ruangan, teman-temannya telah menunggu. Mereka tak sabar meminta Oge
menjelaskan pelajaran fisika yang baru saja mereka dapat dari sang guru.
(KORNELIS KEWA AMA)
Sumber: Septinus George Saa, Uang Bukan Segalanya untuk Maju – Kompas, 30 Desember 2004